Harapan hidup Shakeel, menunggu uluran tanganmu!
Donasi terkumpul
Rp 10.000
Target penggalangan
Rp 65.000.000
1 Donasi
Penggalangan selesai
Informasi Penggalang Dana
Penggalang Dana
Kilau Indonesia Majalengka
Kotak Dana ini telah ditinjau dan disetujui untuk dipublikasikan.
Rencana Penggunaan Dana
Biaya yang diperlukan untuk operasional pengobatan dan terapi Shakeel cukup besar. Keluarganya harus mengeluarkan sekitar Rp 250.000 untuk setiap sesi pengobatan, dengan frekuensi hingga 10 kali dalam sebulan. Hal ini tentunya sangat membebani kondisi keuangan orang tua Shakeel. Selain itu, kebutuhan sehari-hari seperti bubur dan popok juga diperkirakan mencapai Rp 30.000 per hari.
Kilau Majalengka berupaya membantu Shakeel dengan memberikan pendampingan, yang diperkirakan memerlukan biaya hingga Rp 65.000.000. Dana tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan transportasi, uang makan pendamping, serta kebutuhan pokok dan nutrisi untuk Shakeel.
Cerita
11 November 2024
Penerima dana
Shakeel Maulana
Sakit yang diderita
Epilepsi
Dokumen Terverifikasi
Lokasi
KAB. MAJALENGKA
Penggalang Dana dan Pasien
Kilau Indonesia, lembaga nirlaba yang dibentuk bertujuan untuk pengelolaan dana sosial secara lebih profesional dengan menitikberatkan pembinaan dan pemberdayaan sosial melalui 4 rumpun program yaitu Berbagi Pendidikan, Berbagi Sehat, Berbagi Ekonomi, dan Berbagi Makan.
Pada kesempatan ini, kami ingin menginisiasi dalam proses pertolongan untuk membantu saudara kita yang sedang berjuang untuk sembuh dari penyakit berat yang dihadapinya. Kilau Indonesia Majalengka berupaya untuk membuka jembatan bagi calon donatur untuk bisa ikut membantu meringankan beban pasien dan keluarga. Mari sukseskan program berbagi sehat dari Kilau Indonesia!
CERITA SHAKEEL
Shakeel Maulana, atau Aken, adalah buah hati dari pasangan Nur Ajis Maulana dan Tasiyah yang lahir pada 2 September 2020. Kehadirannya membawa kebahagiaan bagi keluarga kecil mereka. Namun, kebahagiaan itu berubah saat Aken, yang saat itu baru berusia 11 bulan, mengalami kejang hebat. Setelah berobat ke beberapa rumah sakit, akhirnya terungkap bahwa Aken mengidap epilepsi dan kerusakan saraf otak.
Serangan epilepsi yang dialami Shakeel seringkali membuatnya sangat menderita. Kejang-kejang yang tak terkendali bisa berlangsung berjam-jam, bahkan seharian penuh. Kondisi ini tentu sangat melelahkan bagi Aken. Untuk membantu Aken, orang tuanya berupaya keras dengan rutin membawanya berobat dan menjalani berbagai terapi. Setiap bulan, Aken menjalani terapi kognitif, dan dua kali seminggu mengikuti terapi fisik untuk memulihkan kekuatan ototnya.
Sebelum ibunya bekerja di pabrik, keluarga Shakeel harus berjuang keras untuk membiayai pengobatan Aken. Setiap bulan, sejumlah besar uang harus dikeluarkan untuk biaya kontrol, obat-obatan, dan terapi. Meskipun kini sebagian biaya pengobatan ditanggung BPJS, keluarga mereka tetap kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Biaya transportasi dan kebutuhan khusus Aken seperti susu dan popok terus membebani keuangan keluarga.
Aken diasuh oleh tantenya, Leni. Seiring waktu, berat badan Aken terus bertambah, membuatnya semakin sulit untuk digendong. Dokter menyarankan agar Aken menggunakan kursi roda khusus. Namun, harga kursi roda tersebut sangat mahal. Demi memberikan yang terbaik untuk Aken, orang tua Aken rela meminjam uang ke sana ke mari. Mereka berharap dengan adanya kursi roda ini, Aken bisa lebih nyaman dan bisa terus berkembang.
Aken sangat membutuhkan bantuan kita semua. Setiap minggunya, keluarga Aken harus mengeluarkan biaya sebesar Rp250.000 hanya untuk sekali perjalanan bolak-balik menjalani terapi. Belum lagi biaya kebutuhan sehari-hari Aken dan cicilan kursi roda yang masih harus dibayar.

Riwayat Penyakit dan Pengobatan
Aken yang saat itu baru berusia 11 bulan, mengalami kejang hebat. Setelah berobat ke beberapa rumah sakit, akhirnya terungkap bahwa Aken mengidap epilepsi dan kerusakan saraf otak.
Serangan epilepsi yang dialami Shakeel seringkali membuatnya sangat menderita. Kejang-kejang yang tak terkendali bisa berlangsung berjam-jam, bahkan seharian penuh. Kondisi ini tentu sangat melelahkan bagi Aken. Untuk membantu Aken, orang tuanya berupaya keras dengan rutin membawanya berobat dan menjalani berbagai terapi. Setiap bulan, Aken menjalani terapi kognitif, dan dua kali seminggu mengikuti terapi fisik untuk memulihkan kekuatan ototnya.
Sebelum ibunya bekerja di pabrik, keluarga Shakeel harus berjuang keras untuk membiayai pengobatan Aken. Setiap bulan, sejumlah besar uang harus dikeluarkan untuk biaya kontrol, obat-obatan, dan terapi. Meskipun kini sebagian biaya pengobatan ditanggung BPJS, keluarga mereka tetap kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hari-hari berganti, Shakeel tumbuh dengan penuh perjuangan hebat dalam hidupnya. Pengobatan rutin ke dokter spesialis anak dan juga terapi yang dilaksanakan rutn olehnya kini sedikit demi sedikit ada kemajuan. Alhamdulillah Shakeel semakin membaik, namun efek samping dari obat membuat tumbuh kembangnya lambat. Kini Shakeel harus terus berobat dan terapi agar terus hidup.

Upaya yang dilakukan keluarga demi kembuhan sang buah hati pun tidak main-main. Dimulai dari memberikan perawatan yang terbaik sampai harus dipindah ke beberapa Rumah Sakit karena sebelumnya belum ada dokter yang mampu menangani penyakit Shakeel. Hingga biaya besar pun tak terduga untuk membeli kursi roda khusus yang direkomendasikan oleh salah satu dokter di Rumah Sakit yang harganya mencapai kurang lebih Rp. 16.000.000. Demi sang buah hati akhirnya orang tua Shakeel rela menjual aset dan berhutang untuk membeli kursi tersebut.
Tak hanya itu, keluarga Shakeel pun rela mengantar sang buah hati untuk terus bisa kontrol obat dan terapi secara rutin yang intensitasnya dalam sebulan bisa sampai 10 kali. Sampai saat ini, Shakeel dijadwalkan untuk melakukan kontrol dan terapi dalam satu tahun kedepan.

Keluarga Shakeel merupakan keluarga sederhana. Sang Ayah yang bekerja sebagai karyawan gudang dan ibunya bekerja sebagai karyawan pabrik. Upah UMR di Kab. Majalengka belum cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional pengobatan dan terapi Aken. Ditambah lagi dengan kebutuhan diluar pengobatan yang setiap hari harus dipenuhi seperti bubur dan popok. Dengan pengeluaran tersebut, akhirnya mereka terpaksa harus berhutang dan menjual beberapa aset yang mereka punya. Mimi Leni, bibi dari Shakeel setiap hari rela untuk menggantikan orang tua Shakeel untuk mengurusi Shakeel ketika orang tuanya bekerja. Dengan sabar dan tekun beliau merawat Shakeel meskipun kadang beliau juga sering sakit karena kelelahan merawat Shakeel. Namun kecintaanya pada Shakeel membuat semua itu bukan menjadi masalah.
Shakeel hidup di lingkungan yang biasa saja, ada tetangga yang peduli dan ada juga yang tak mau tau. Bantuan dari pemerintah pun belum sempat dirasakan sampai sekarang, hal ini menjadi pertanyaan kemanakah kita selama ini?

Kondisi dan Rencana Penggunaan Dana
Shakeel mengidap eplipsi hebat ketika usia 11 bulan. Dan sekarang Shakeel masih harus pengobatan dan terapi karena seluruh badannya lemas dan sering bergetar. Shakeel juga menjadi sering kaget dan terkadang merasa sakit di bagian tenggorokan hingga membuatnya sering berteriak dan kadang menangis.

Shakeel berasal dari keluarga pra sejahtera yang memang sangat terbebani dengan biaya operasional pengobatan dan juga trapi yang rutin setiap bulan dilaksanakan. Jumlah biaya nya pun tidak sedikit, dan mereka sudah sangat lelah dan kehabisan aset untuk biaya pengobatan. Ditambah lagi kondisi Shakeel yang memang perlu bantuan dan uluran tangan dari kita semua agar mimpi dan cita-citanya bisa tercapai dan ia bisa hidup normal dan sehat seperti anak-anak pada umumnya. Uluran tangan kita akan membantu menumbuhkan semangat bagi Shakeel untuk terus hidup.

Doa dan Harapan
Keluarga Shakeel hanya berharap dan berdoa semoga ada orang baik yang bisa membantu meringankan beban mereka. Dan tentunya mereka berharap agar Shakeel bisa lekas sembuh normal seperti sedia kala. Dan semua biaya pengobatan dan terapi yang dijalani sampai satu tahun kedepan bisa mereka bayarkan setiap bulannya.

Kotak Dana Selesai
Terima kasih atas dukungan Anda. Penggalangan telah ditutup.